Kamis, 20 Mei 2010

nusantara

Nusantara merupakan istilah yang dipakai oleh orang Indonesia untuk menggambarkan wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. 1Kata ini tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16), namun untuk menggambarkan konsep yang berbeda dengan penggunaan sekarang. Pada awal abad ke-20 istilah ini dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara sebagai nama alternatif untuk negara lanjutan Hindia-Belanda.
Setelah penggunaan nama Indonesia disetujui untuk dipakai untuk ide itu, kata Nusantara dipakai sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia. Malaysia meminjam istilah ini namun memakainya dalam pengertian yang berbeda. Di Malaysia, istilah ini lazim digunakan untuk menggambarkan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia, termasuk Semenanjung Malaya namun biasanya tidak mencakup Filipina.
Nusantara dalam konsep kenegaraan Jawa


Wilayah Majapahit
Dalam konsep kenegaraan Jawa di abad ke-13 hingga ke-15, raja adalah "Raja-Dewa": raja yang memerintah adalah juga penjelmaan dewa. Karena itu, daerah kekuasaannya memancarkan konsep kekuasaan seorang dewa. Kerajaan Majapahit dapat dipakai sebagai teladan. Negara dibagi menjadi tiga bagian wilayah: Negara Agung, mancanegara, dan nusantara. Negara Agung merupakan daerah sekeliling ibukota kerajaan tempat raja memerintah. Mancanegara adalah daerah-daerah di Pulau Jawa dan sekitar yang budayanya masih mirip dengan Negara Agung, tetapi sudah berada di "daerah perbatasan".
Dilihat dari sudut pandang ini, Madura dan Bali adalah daerah "mancanegara". Selain itu Lampung dan juga Palembang juga masih bisa dianggap daerah "mancanegara". Nusantara adalah daerah di luar pengaruh budaya Jawa tetapi masih diklaim sebagai daerah taklukan: para penguasanya harus membayar upeti.
Gajah Mada menyatakan dalam Sumpah Palapa: Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa, sira Gajah Mada : Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa.
Kitab Negarakertagama mencantumkan wilayah-wilayah "Nusantara", yang pada masa sekarang dapat dikatakan mencakup sebagian besar wilayah modern Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya, sebagian Kepulauan Maluku, dan Papua Barat) ditambah wilayah Malaysia, Singapura, Brunei dan sebagian kecil Filipina bagian selatan.
Secara morfologi, kata ini adalah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa Kuna nusa ("pulau") dan antara ("lain").
Penggunaan modern


Konsep Nusantara menurut para pendiri bangsa Indonesia adalah identik dengan Indonesia sekarang (bekas Hindia-Belanda).
Pada tahun 1920-an, Ki Hajar Dewantara memperkenalkan nama "Nusantara" untuk menyebut wilayah HindiaBelanda yang tidak memiliki unsur bahasa asing ("India"). Hal ini dikemukakan karena Belanda, sebagai penjajah, lebih suka menggunakan istilah Indie ("Hindia"), yang menimbulkan banyak kerancuan dengan literatur berbahasa lain. Definisi ini jelas berbeda dari definisi pada abad ke-14. Pada tahap pengusulan ini, istilah itu "bersaing" dengan alternatif lainnya, seperti "Indonesiƫ" (Indonesia) dan "Insulinde". Istilah yang terakhir ini diperkenalkan oleh Eduard Douwes Dekker.
Penggunaan di Malaysia
Istilah "Nusantara" digunakan juga di Malaysia untuk menyebut kawasan kepulauan di antara Asia Tenggara benua (Indocina) dengan Australia, dan mencakup negara-negara Indonesia, Malaysia (termasuk wilayah semenanjung), Singapura, Brunei, Filipina (bagian selatan), Timor Leste, dan - namun tidak selalu - Papua Nugini. Ini berhubungan dengan konsep mereka tentang "Ras Melayu", di mana menurut mereka kawasan kepulauan ini berada di bawah pengaruh satu kebudayaan induk yaitu kebudayaan "Ras Melayu".
Malaysia menggunakan istilah ini untuk menyebut kawasan Asia Tenggara maritim yang memiliki keterkaitan dengan budaya atau bahasa Melayu, karena bahasa ini merupakan lingua franca dalam hubungan antarmanusia di kepulauan ini. Literatur berbahasa Inggris dan beberapa bahasa Eropa lain (namun jarang dijumpai dalam literatur berbahasa Belanda) pun menyebut kawasan ini sebagai Malay Archipelago
"Nusantara" dan "Kepulauan Melayu"


"Nusantara" pada zaman Majapahit dan Kepulauan Melayu yang merupakan dasar dari konsep (Alam Melayu) adalah dua konsep yang memiliki kesamaan cakupan geografis namun terdapat perbedaan sejarah sehingga dua konsep ini tidak dapat digunakan untuk merujuk hal yang sama.
Konsep "Nusantara" murni berasal dari kebudayaan asli Indonesia (Majapahit). Hal ini terlihat dari kata Nusantara sendiri yang tidak diambil dari bahasa asing (India). Bangsa Indonesia sebagai keturunan asli (bukan pendatang) dari Majapahit memiliki hak mutlak atas terminologi Nusantara. Sebagai pewaris terminologi Nusantara, maka hakikat dari definisi terminologi ini yaitu wilayah negara adalah tetap. Jikalau pada asalnya Nusantara merujuk ke wilayah Majapahit, maka sekarang Nusantara merujuk pada wilayah Indonesia.
Sedangkan konsep Kepulauan Melayu sebenarnya digunakan oleh bangsa asing untuk merujuk wilayah dimana penduduknya menggunakan rumpun bahasa Austronesia. Penggunaan kata Melayu sendiri tidak dimaksudkan untuk merujuk pada suku Melayu, namun lebih kepada karena kata "me-la-yo" yang ditemukan di Jambi merupakan kata tertua pada saat itu. kata "me-la-yo" ini sebenarnya hanya merujuk sebagian kecil wilayah jambi dan tidak memiliki cakupan seluas "Nusantara". Pada perkembangannya sebagian penduduk di Asia Tenggara menyalahartikan kata Kepulauan Melayu sebagai konsep epicentris dimana Melayu (Melayu Malaysia) sebagai pusat peradaban di wilayah Kepulauan Melayu (Austronesia).
Dari kesalahan arti Kepulauan Melayu, kemudian juga berkembang konsep ras Melayu. Konsep ini jelas merupakan suatu kesalahan karena etnis Melayu merupakan salah satu kelompok etnis, sama seperti Jawa, Sunda, Bali, dll.
Mengingat penyimpangan dari konsep Kepulauan Melayu ini dan juga perbedaan sejarah dari kedua terminologi maka terminologi Nusantara dan Kepulauan Melayu adalah terminologi yang berbeda. eka

Senin, 17 Mei 2010

Bumi Cendana dalam Perdagangan Internasional

BUMI CENDANA DAN MONOPOLI “PERDAGANGAN INTERNASIONAL” ABAD XVI - XVIII
Oleh :
Eka Ningtyas1

PENGANTAR
Indonesia merupakan Negara Kepulauan (Archipelago State) yang membentang dari ujung Barat hingga Timur dengan Luas wilayah 5 juta km2 dan luas laut teritorial (ZEE) sepanjang 24 mil2 serta memiliki garis pantai kedua terpanjang setelah Kanada . Jarak dari Sabang Hingga Merauke lebih Luas dari pada jarak antara London dengan Siberia sebagaimana digambarkan oleh Multatuli dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar. Indonesia memiliki 18.108 Pulau besar dan kecil dengan kurang lebih 450 suku bangsa dan ratusan bahasa, membuat Indonesia menjadi Negara yang memiliki masalah dengan Integrasi Nasional.
Selain memiliki kekayaan Wilayah, Suku Bangsa dan Bahasa, Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang sudah tersohor sejak dulu. Emas dan Rempah-rempah menjadi Primadona dalam perdagangan Internasional. Jauh sebelum bangsa Eropa masuk ke Nusantara, telah ada hubungan perdagangan antara Nusantara dengan India dan juga Cina. Menurut J.C Van Leur sejak jaman Prasejarah telah terjadi hubungan antara India dengan Nusantara yang memanfaatkan angin Musim menyebrangi Samudra Hindia. Hal itu dibuktikan dari peninggalan Arkeologis bahwa pada abad ke5 Masehi baik di daratan maupun di lautan terdapat taraf Indianisasi yang hampir Merata.
Naskah India kuno menyebutkan bahwa kayu Gaharu dan Kayu cendana adalah komoditas yang didapat dari timur teluk benggala. Catatan perjalanan pendeta Buddha Fa Hien dan Gunavarman menyebutkan bahwa interaksi dengan Nusantara telah terjalin sejak tahun 413 M. Istilah Yeh-p’o-t’I maupun She-p’o yang terdapat dalam catatan Fa hien dan Gunavarman menurut para ahli merujuk pada Nusantara yang kaya akan Emas.



PEMBAHASAN
Nusa Tenggara Sebagai Surga Cendana
Nusa Tenggara terletak disebelah Tenggara Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan merupakan Provinsi yang didominasi oleh kepulauan. Tiga kepulauan utama di Nusa Tenggara Timur adalah Pulau Flores, Sumba dan Timur Barat. Sumber-sumber tertulis dari dalam Wilayah Nusa Tenggara Timur sampai dengan kedatangan bangsa Barat hampir tidak ada. Hal ini disebabkan karena Wilayah Nusa Tenggara Timur terdiri dari berbagai suku bangsa yang tidak mengenal tulisan3. Berita tulis tertua mengenai daerah di Nusa Tenggara Timur adalah berita Cina dari suku Cu-Fan-Shih karya Can-yu-kua. Berita tersebut menyebutkan bahwa Tiwu (Timor) yang sangat kaya akan kayu Cendana telah mengadakan hubungan dengan kerajaan Kediri4. Walaupun fakta dalam berita tersebut kurang tepat , karena kerajaan kediri sudah runtuh pada tahun 1225, namun berita ini mempunyai arti penting.
Nusa Tenggara Timur di zaman kuno mempunyai arti penting sebagai produsen kayu cendana sehingga menjadi penting bagi perdagangan kayu Cendana. Daerah-daerah pinggir pantai yang strategis kemudian berkembang menjadi kerajaan kuno guna mengawasi monopoli perdagangan kayu Cendana. Kapan munculnya kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara Timur sulit diketahui karena terbatasnya sumber. Namun di Pulau Timor terdapat kerajaan Wewiku Wehali berpusat di Belu selatan, yang menurut cerita rakyat didirikan oleh nenek moyang Sina Mutin Malaka.
Munculnya kerajaan-kerajaan kuno di Nusa Tenggara erat kaitannya dengan perniagaan cendana, maka perkembangan perdagangan Kerajaan tersebut tidak jauh waktunya dengan perkembangan perdagangan Cendana5. Menurut Wolters bahwa pada abad ke 3 M, banyak perahu pedagang Indonesia yang membeli Cendana langsung di Sumbawa atau Timor untuk diangkut ke Sriwijaya dan selanjutnya diteruskan ke India. Sedangkan perdagangan Cendana dengan Cina baru terjadi sesudah abad ke 3 M6. Sebelum pengaruh Barat masuk di perairan Nusantara, batas wilayah laut belum menjadi masalah bagi penguasa setempat, karena mereka menggunakan prinsip perairan bebas, sehingga tidak terdapat batasan wilayah perairan. Namun setelah pengaruh Portugis sebagai penguasa Barat pertama yang masuk wilayah Nusantara, berhasil memenangkan konflik dengan kekuatan lokal, Portugis kemudian menentukan batas-batas wilayah laut tanpa mempertimbangkan kepentingan-kepentingan kekuatan lokal.
Dengan beralihnya penguasaan laut dari tangan raja-raja pribumi kepada kekuatan asing, maka keadaan politik dan ekonomi kini ditentukan oleh keputusan yang diambil oleh kekuatan asing, walaupun secara intern7 mereka masih relatif berkuasa namun politik sesungguhnya ditentukan oleh kekuatan asing itu. Portugis merupakan bangsa Barat tertua yang sampai di wilayah Nusa Tenggara Timur. Rombongan anak buah Magelhaens yang menumpang kapal Victoria dalam perjalanan keliling dunia telah singgah di pulau Timur pada tahun 1522. Pada saat bangsa Barat datang, perdagangan di Nusantara telah memiliki Supply and demand yang relatif teratur dari segi perdagangan internasional maupun perdagangan antardaerah. Sistem perdagangan laut8 yang relatif sudah mapan mengalami penyesuaian-penyesuaian setelah bangsa barat bisa menanamkan dominasinya di Nusantara.
Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis berusaha melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah dan Cendana ke pusat penghasilnya yakni di Maluku dan di Nusa Tenggara Timur. Informasi yang didapat Portugis mengenai jalan menuju pusat penghasil rempah-rempah dan cendana adalah dari pedagang-pedagang Cina dan Pedagang Nusantara. Awal mula kedatangan portugis di Nusa Tenggara Timur disambut dengan baik oleh penguasa setempat karena terjadi penurunan perdagangan akibat hancurnya armada Jawa di Malaka9. Sehingga mengurangi pendapatan secara ekonomis bagi penduduk setempat.
Portugis tidak memiliki kediaman tetap di wilayah Nusa Tenggara Timur, namun dalam perkembangan selanjutnya, bukan hanya mencari komoditi ekspor tapi disertai pula dengan Misi yang diusung oleh Ordo Dominiskus untuk menyebarkan agama katholik, sehingga Portugis mendirikan benteng pertahanan10 dan Gereja. Lambat-laun terjadi konflik multidimensi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur. Portugis terlalu campur tangan dalam birokrasi pemerintahan penguasa setempat, selain itu Portugis yang gencar menjalankan misi Gereja mendapat counter dari kekuasaan Islam di Jawa yang berambisi mengusir Portugis dari Nusa Tenggara Timur.
Perkembangan perdagangan di Nusantara pada abad ke 15 dan abad ke 16 ditulis dengan baik oleh Tome Pires dalam catatan yang dibuatnya selama tahun 1512-151511. Di kepulauan Nusa Tenggara, Pires menyebutkan Pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Bima, Sangeang, Solor, dan Alor semuanya diperintah oleh Penguasa Lokal. Mereka masih menganut Paganisme sehingga dalam melaksanakan Misi ordo Dominikus tidak mengalami perlawanan yang berarti. Dari pulau Timor, Pires menyebutkan terdapat kayu Cendana (sandalwood) berwarna putih yang tidak ditemukan di tempat lain. Sedemikian masyurnya cendana putih dari Timor sehingga konon para pedagang Melayu suka berkata, “Tuhan menciptakan Timor untuk kayu cendana, Banda untuk pala, dan Maluku untuk cengkeh.

Monopoli Perdagangan Cendana
Pulau Timor terkenal sebagai daerah penghasil kayu Cendana terbesar di Nusa Tenggara Timur, sehingga menjadi magnet bagi kapitalis asing untuk memonopoli perdagangannya. Hal tersebut menimbulkan konflik antara kepentingan asing dengan kepentingan asing maupun kekuatan lokal dengan kepentingan asing. Fakta menarik ditemukan mengenai kekuatan lokal yang saling berebut untuk menguasai Nusa Tenggara Timur sebagai ladang emas bagi perekonomiannya. Hal ini terbukti pada kerajaan Manggarai yang selalu memberikan upeti kepada kerajaan Bima pada tahun 160012. Kerajaan ini bersaing dengan Makasar dalam memperebutkan pengaruh di wilayah bagian barat Nusa Tenggara Timur. Menurut sumber sejarah Gowa, Makasar telah mempunyai pengaruh dan menanamkan kekuasaan-kekuasaan di pulau Timor tahun 1640, di Pulau Flores tahun 1626, dan Alor tahun 1626, dimana pengaruh kekuasaan ini berakhir sejak perjanjian Bungaya tahun 1669.
Disamping itu kekuasaan Ternate pernah juga mengakui wilayah timur Nusa Tenggara Timur sebagai bagian wilayahnya. Beberapa usaha Makasar dalam usaha menanamkan pengaruhnya di antaranya adalah pada tahun 1640 Raja Karaeng Talo, berusaha mengusir Portugis dari Timor13. Pada tanggal 20 Januari 1641 Raja Karaeng Talo tersebut mengirimkan seratus lima puluh perahu dengan enam ribu awak ke Larantuka dalam rangka memerangi Portugis. Usaha-usaha Makasar di daerah Nusa tenggara Timur di samping dalam rangka kepentingan politik juga atas alasan ekonomi. Masuknya kekuasaan Portugis di wilayah Nusa Tenggara Timur dianggap membahayakan kepentingan Makasar. Daerah sekitar pulau Solor yang strategis merupakan bandar penting untuk perdagangan ke Nusa Tenggara Timur.
Selain kekuatan lokal yang saling memperebutkan Nusa Tenggara Timur, adapula dua kekuatan asing yaitu Portugis dan Belanda yang ingin menguasai monopoli perdagangan di Nusa Tenggara Timur. Raja-raja Timor tidak berdaya menghadapi kekuatan baru. Baik Belanda maupun Portugis memakai taktik yang curang sehingga raja-raja berpihak padanya. Portugis menduduki daerah Solor dan Timor untuk menguasai perdagangan Cendana maupun kegiatan Misilis oleh ordo Dominiskus. Pada tahun 1561 misionaris-misionaris Portugis pertama seperti P. Antonion da Cruz O.P, P. Simao, Chagos dan B. Alexio mendirikan rumah dan gereja yang telah dipagar. Namun beberapa tahun kemudian mereka diserang oleh pasukan dari Jawa berusaha mengusir Portugis. P. Antonio da Cruz mempelopori didirikannya benteng Lahayong pada tahun 1566 yang dilengkapi dengan meriam dan dua puluh orang prajurit dengan seorang panglima14.
Pada tahun-tahun sesudahnya, muncul serangan-serangan lagi dari jawa. Masyarakat Solor sendiri pun tidak secara keseluruhan menyenangi orang-orang Portugis atau agama mereka, sehingga sering kali muncul perlawanan15. Pada tahun 1598-1599 terjadi pemberontakan besar-besaran dari orang-orang Solor yang membuat Portugis terdesak sehingga mengirim sebuah armada yang terdiri atas 90 kapal untuk menundukkan para pemberontak tersebut. Namun Portugis tetap menduduki benteng mereka di Solor sampai diusir oleh belanda pada tahun 1613 dan, setelah Portugis melakukan pendudukan kembali tahun 1636.
Disamping Portugis, Nusa Tenggara Timur juga mengadakan hubungan dengan Belanda. Belanda berusaha menyaingi Portugis di pusat penghasil rempah-rempah dan Cendana. Oleh karenanya pusat pertahanan Portugis di Solor berkali-kali diserang antara lain sejak tahun 1613 hingga 1629. Tahun 1653 Portugis semakin terdesak dari Solor ke arah timor bagian bagian timur yang nantinya, berdasarkan perjanjian Lisabon pada tanggal 10 Juni 1893 yang ditandatangani pada 1 Oktober 1904 menetapkan pembagian wilayah yakni portugis menguasai Oekusi dan Timor Timur sedangkan Belanda menguasai daerah Nusa Tenggara Timur. .
Pada tahun 1656 Belanda mengirimkan ekspedisi ke Amarasi dalam usaha meluaskan pengaruhnya. Dengan berpusat di Kupang Belanda semakin mencampuri urusan raja-raja di Timor. Raja-raja kecil yang lemah segera dirangkul menjadi sekutunya dan diberi tanda penghargaan dan hadiah. Akhirnya raja-raja tersebut dipaksa mengakui kedaulatan Belanda dengan menadatangai korte verklaring. Sebagai puncaknya, pada tanggal 6 Juni 1755 Belanda berhasil mengadalan perjanjian dengan raja-raja Timor, Solor dan Sumba. Dimana isinya tak hanya memuat persetujuan dagang yang memberikan hak monopoli pada Belanda, tetapi juga pasal-pasal yang secara langsung membuat raja-raja tunduk kepada Belanda.

KESIMPULAN
Kayu Cendana atau sandalwood merupakan komoditi asli pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggar Timur yang sudah dikenal sejak awal abad Masehi. Pulau Timor yang terletak dalam gugusan kepulauan sunda kecil mampu manarik minat para pedagang asing untuk melakukan perdagangan antar samudra demi mendapatkan komoditi langka tersebut. India dan Cina merupakan pedagang asing yang bersinggungan langsung dengan Nusa Tenggara pada abad ke 3 M dengan menggunakan kapal sederhana yang mampu memuat hingga 200 ton.
Jauh setelah itu, setelah konstantinopel jatuh ke tangan Turki membuat para pedagang asing ingin langsung mencari sumber-sumber rempah-rempah langsung dari sumbernya. Setelah mencari sampai ke daratan India ternyata masih ada pusat rempah-rempah yang harganya lebih murah yaitu di kepulauan Nusantara. Portugis setelah menduduki Malaka pada 1511, kemudian berambisi menguasai Maluku sebagai sumber rempah-rempah dan pulau Timor sebagai sumber Kayu Cendana. Belanda juga memiliki ambisi yang sama yaitu ingin memonopoli kekayaan rempah-rempah Nusantara demi kemakmuran negerinya. Konflik demi konflik antara kepentingan yang berambisi menguasai perdagangan Nusantara hingga berujung pada perjanjian Lisabon yang membagi wilayah Portugis di Timor Timur dan Belanda di Nusa Tenggara Timur, sehingga Belanda menjadi satu-satunya kekuatan asing yang memonopoli Nusa Tenggara Timur hingga 350 tahun.
Kekayaan Bumi Cendana sangat melimpah, namun hal itu tidak dapat dirasakan oleh penduduk di Bumi Cendana. Hasil alam diekplorasi oleh kekuatan asing yang ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah dan Cendana. Rakyat dipaksa tunduk kepada kekuatan asing dengan segala taktik adu domba maupun tekanan secara militer. Kondisi semacam ini terus menerus berlangsung hingga memasuki jaman pendudukan Jepang. Walaupun Nusa Tenggara Timur hanya menjadi basis angkatan laut Jepang (kaigun) bukan untuk dimonopoli perdagangan Cendananya, namun kondisi sosial, ekonomi, maupun politik di Nusa Tenggara Timur tidak berubah menjadi lebih baik. Justru pemaksaan kepada penduduk yang mayoritas bekerja di sektor pertanian untuk menjadi Romusha didaerah lain dengan siksaan berat, dan tidak adanya jaminan kesehatan serta makanan yang cukup, membuat kondisi sosial masyarakat semakin terpuruk. Hal ini sering membawa akibat terbengkalainya tanah pertanian mereka.


















DAFTAR PUSTAKA

Adrian B. Lapian, Orang Laut Bajak Laut Raja Laut (sejarah kawasan laut silawesi abad XIX), (Depok; Komunitas Bambu,2009)

Gordon. Ir, The History of Manggarai (west Flores) Indonesia, with emphasis on Economic Transfpormation in the 20 th Century, Harvard University, Cambridge, Mass U.G.A. 1972

Groeneveldt, W.P. Historical notes on Indonesian and Malaya, Compiled from chinese Sources, (Jakarta; Bhatara, 1960)

Joko Subagyo, Hukum Laut Indonesia, (Jakarta; Rineka Cipta, 1993)

M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, (Jakarta; Serambi,2005)

Nordholt, H.G. Schulte, The Political System of Atoni of Timor, The Hague Martinus Nijhoof, 1971

Pierre-Ives Manguin, The Vanishing jong: Insular Southeast Asian Fleet in Trade and War(fifteenth to Seventeenth Centuries), dalam; A. Reid (ed), Southeast Asia in the Early Modern Era: Trade, Power and Belief (Ithaca-London: Cornell University Press, 1993

Parakitri T. Simbolon, Menjadi Indonesia, (Jakarta: kompas press, 2006)

Sejarah Daerah Nusa Tenggara Timur, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977-1978

Wolters. O.W., The Early Indonesian Commerce, Ithaca, nt.